Berikut ini kumpulan hasil pengamatan kasual selama bertahun2x menggunakan kendaraan murah meriah dan unik yang bernama angkot, terutama di daerah Bandung. Kelakuan angkot di daerah lain, misalnya Bogor, mungkin berbeda.
Sopir
Klaksonis. Sopir tipe ini doyan banget mencet klakson di setiap saat, bahkan waktu berhenti sekalipun. Umumnya sopir yg begini tuh malah pendiem orangnya, mungkin karena suaranya gak keras, jadi alih2x manggil “Neng! Dago, Neng!” dia menggunakan klakson sebagai pengganti mulutnya. Meyebalkan jika klaksonnya termasuk tipe bising. Barangkali supir kayak gini sekali2x perlu dikirim ke negara maju di Barat, sapa tau kapok karena digebugin :p
Tipe pengetem. Sopir seperti ini gemar ngetem, mungkin dengan pemikiran bahwa dengan ngetem dia bekerja lebih efisien: penumpang jadi banyak tapi bensin irit (padahal belum tentu, dengan banyak berdiam mungkin saja dia kehilangan calon2x penumpang yang sedang menunggu jauh di depan, belum lagi penumpang yang minggat karena gak sabar, dan kecenderungan penumpang untuk bayar lebih sedikit karena kesal). Bahaya deh kalo waktu lagi mepet trus ketemu tipe ini. Jika sopir normal biasanya tau diri dan membatasi tiap sesi ngetem, sopir tipe pengetem gak akan peduli berapa lama dia ngetem. 10 menit atau lebih pun bisa. Dan kadang2x maju 10 meter pun bisa mulai ngetem lagi. Selama ngetem, si supir mungkin melakukan hal2x ini yang kadang bikin penumpang tambah kesel: ngitung duit, ngerokok, nyetel musik, bersiul.
Tipe harus penuh. Ini adalah bentuk ekstrem dari tipe pengetem, di mana si supir angkot cenderung akan bersikeras menunggu angkot penuh dulu sebelum mau berangkat. Jika di tengah jalan angkot mulai dikosongkan 1-2 penumpang, dia akan cenderung ngetem lagi untuk memenuhkan angkotnya.
Jurus maju mundur. Jurus ini sering diperagakan oleh tipe pengetem. Mungkin dengan tujuan membuat penumpangnya tidak terlalu kesal, sekaligus memancing calon penumpang baru, si supir akan menekan2x gas agak dalam agar mobil meraung2x, lalu melepas kopling dikit agar si angkot maju barang selangkah dua langkah. Tapi setelah itu dia akan mundur lagi, untuk kemudian mengulangi jurus. Ini membuat ilusi seolah2x angkot akan segera berangkat, padahal belum.
Tipe kelewat gigih. Tipe supir seperti ini ngotot dan gigih banget merayu calon penumpang, sampe2x membuat calon penumpang kesel. Mulai dari menguntit dari belakang orang yang lagi jalan di trotoar, memijit klakson, memanggil2x, sampe sedikit memepet-mepet calon penumpang, berharap agar si pejalan kaki mau naik. Padahal sebetulnya si pejalan kaki sudah memberi isyarat bahwa dia tidak ingin naik angkot. (Ini sebetulnya efek samping dari terlalu banyak angkot, sehingga setiap angkot harus berjuang ekstra keras untuk seorang penumpang. Lihat juga: tipe penumpang jual mahal)
Tipe rusuh. Supir tipe begini suka sok rusuh, tancap gas duluan saat penumpang yang lagi naik belum duduk, atau saat penumpang baru turun tapi belum sepenuhnya menjauh dari angkot.
Tipe “Brrmm… Ciiit!” Waktu kecil suka gak main mobil2xan dengan adik/teman main, di mana si teman memegang pundak kita di belakang lalu kita berlari2xan sambil menirukan suara mobil: brrrrmmmm… (atau: ngeeeennng) lalu tiba-tiba berhenti sambil menirukan suara rem: ciiiitttt! Nah, tipe supir yang satu ini mungkin waktu kecilnya kebanyakan main mobil2xan. Dia gemar tancap gas dan ngerem terlalu tiba2x, gak mulus. Sehingga, kalo kita gak duduk di depan (dan searah dengan si supir), bakalan ngerasa gak enak banget karena terhentak-hentak dan harus sigap melawan gerakan angkot. Tipe supir seperti ini harus sering2x dijadiin penumpang di belakang dan ngerasain sendiri betapa gak nyamannya cara dia ngegas dan ngerem terlalu mendadak. Lihat juga: Tipe rusuh.
Tipe susah berenti. Tipe supir seperti ini kalo dibilangin “kiri” atau “stop” oleh penumpang suka gak mau cepat2x berhenti, tapi berhenti 50 meter di depan, dengan alasan mengepaskan tempat berhenti dengan tempat yang mungkin bisa mengangkut penumpang baru. Atau memang gatel aja gak mau cepet2x ngerem karena gak ingin laju angkotnya terganggu.
Tipe ugal-ugalan. Supir angkot mayoritas memang ugal2xan, dengan alasan mengejar setoran, tapi sebagian kecil memang senang ugal2xan for fun. Dan sebagian supir normal bisa berubah menjadi ugal-ugalan selama beberapa menit sehabis menerima bayaran kurang dari penumpang, sebagai ungkapan kekesalannya. Banyak berdoa dan cepat2x turun, itulah resep jika ketemu supir seperti ini.
Jurus zig zag. Sebetulnya jurus umum supir angkot. Karena tidak ada aturan harus berenti di mana, sebuah angkot bisa menepi dan menengah kapan saja dia mau, seperti ular. Setiap kali ada penumpang bilang stop, atau setiap kali si supir menemukan calon penumpang potensial. Berhati2xlah pengemudi motor atau mobil yang kebetulan berada di belakang angkot.
Jurus “berangkat”. Jurus ini sering sekali dipakai oleh supir/kenek angkot yang lagi ngetem, yaitu merayu calon penumpang dengan kata2x, “Ayo Neng, berangkat sekarang!” agar calon penumpang mau masuk dengan harapan angkot akan segera berangkat. Padahal yang benar, angkot baru akan berangkat setelah si supir angkot merasa puas dengan tingkat keterisian angkotnya.
Jurus “penumpang pancingan”. Jurus ini dipakai umumnya jika angkot sedang berada di stasiun atau di tempat angkot2x banyak ngetem, di mana satu atau lebih teman si supir akan nongkrong di dalam angkot untuk membuat kesan seolah2x angkot sudah berisi. Dengan begini, calon penumpang akan lebih tertarik masuk dengan harapan tidak harus menunggu terlalu lama sampai angkot penuh.
Penumpang
Tipe jual mahal. Calon penumpang yang bahkan sedikitpun enggan untuk memberi isyarat apakah dia ingin naik angkot atau tidak. Baik dari gerak mata, anggukan, kibasan tangan, atau isyarat tubuh yang sedikit menjorok ke depan saat si angkot mendekat. Umumnya tipe penumpang jual mahal adalah gadis-gadis muda. Ini adalah efek samping dari terlalu banyak angkot, sehingga penumpang pun jadi pasang harga. Tidak dapat angkot yang ini, gak ada 5 detik sudah ada angkot lain yang menyusul di belakang. Akibatnya, angkot pun harus berusaha lebih keras untuk menerka maksud hati si calon penumpang. Lihat: Tipe supir kelewat gigih.
Tipe lelet. Penumpang yang sudah ditunggu angkot tapi tetep aja bukannya bergegas melainkan berjalan lambat2x. Biasanya penumpang ibu2x atau wanita bertipe seperti ini.
Tipe ingin turun instan. Penumpang yang begitu bilang stop atau kiri ingin segera angkotnya berhenti saat itu juga, dan kalo angkotnya baru berhenti agak di depan, kesal dan mengomel. Biasanya penumpang yang termasuk tipe ini adalah ibu2x yang kurang kenal aturan lalu lintas, karena gak pernah kenal yang namanya nyetir, sehingga gak ngeh bahwa untuk sebuah kendaraan berhenti itu harus menepi dan mengerem pelan2x, dan jika jalan sedang ramai mungkin dibutuhkan jarak 10-50m sebelum benar2x bisa berenti.
Tipe ingin naik instan. Mirip dengan tipe sebelumnya, namun kali ini dalam hal naik. Penumpang seperti ini juga umumnya ibu2x atau perempuan yang kurang mengerti aturan lalu lintas. Mereka menunggu angkot di tempat2x yang aneh yang nyaman bagi mereka namun tidak nyaman bagi sebuah kendaraan untuk ngetem.
Jurus “bayar lari”. Tipe penumpang yang (secara sadar atau tidak sadar) bayar kurang dari seharusnya, tapi langsung cepat2x menyerahkan (atau setengah melempar) duit bayaran lalu cepat2x ngeleos biar gak ditagih. Ada beberapa kemungkinan mengapa si penumpang melakukan hal ini: memang duitnya pas2xan, gak ada duit kecil dan males mecah duit, atau memang pelit.
Jurus “pura2x budeg”. Mirip dengan jurus “bayar lari”, tapi alih2x ngeleos, si penumpang pura2x budeg saat ditagih kekurangan ongkos.